Ihwal Krisis Keuangan Amerika Serikat Tahun 2008


Berita- berita ekonomi di berbagai media banyak sekali yang menyoroti krisis ekonomi si AS. Berita itu diwarnai bagaimana krisis yang menghantam AS sejak tahun 2008,  mengganjal perekonomian dunia sampai saat ini. 

Alangkah sayangnya jika kita, hanya menelan berita itu tanpa mengerti krisis apa yang sebenarnya terjadi di AS. Selain membantu pemahaman kita tentang kondisi sosial-ekonomi dunia, harapan saya mudah-mudahan kita bisa mengambil 'pelajaran dari kisah tentang sang 'Polisi Dunia', Amerika Serikat, ini.

Pendahuluan

Krisis Subprime Mortgage  (KPR Subprime) di Amerika Serikat

Derivatif Subprime Mortgage 

  1. Bank menjual KPR Subprime kepada lembaga keuangan yang disponsori pemerintah (government-sponsored enterprises) di bidang perumahan yaitu Fannie Mae dan Freddie Mac. Fannie Mae dan Freddie Macadalah perusahaan kredit perumahan terbesar di AS.
  2. Fannie Mae dan Freddie Mac, lalu me-sekuritisasi KPR Subprime tersebut dengan menerbitkan instrumen utang derivatif bernama Mortgage Backed Securites (MBS).
  3.  MBS lalu dibeli oleh investment bank seperti Lehman Brothers, Morgan Stanley, UBS, HSBC, dan lain-lain.
  4. Investment bank tersebut men-sekuritisasikan MBS (sekuritisasi atas sekuritisasi) dengan menerbitkan Collateralized Debt Obligation (CDO).
  5. Langkah sekuritasasi ini terus berlanjut sehingga menghasilkan CDO turunan, synthetic CDO atau credit linknote (CLN).
Dampak Krisis secara Luas 

Amerika Serikat merupakan negara yang  menganut ekonomi liberal. Ekonomi AS dibiarkan menuruti mekanisme pasar, tanpa campur tangan pemerintah. 

Amerika Serikat (AS) mulai mengalami krisis keuangan sejak tahun 2007. Namun puncaknya terjadi pada September 2008, dimana beberapa lembaga keuangan raksasa dunia mengalami kebangkrutan. Akibatnya investor menarik dana investasi mereka demi melindungi nilainya. Penarikan dan invesatsi besar-besaran tersebut mengakibatkan merosotnya Indeks Nasdaq dan Down Jones. Indeks Dow Jones merosot tajam dari level 13.056 menjadi 8.175 atau terkoreksi sekitar 37%. Sedangkan Indeks Nasdaq dari level 2.600 turun menjadi level 1.521 atau terkoreksi 40%. Untuk mengatasi masalah tersebut Pemerintah AS menyediakan dana talangan sebesar US$700 miliar. Namun krisis tidak melemah, malah semakin membengkak menjadi US$1 triliun.

Merosotnya Indeks Saham Amerika Serikat langsung berdampak pada bursa saham di negara-negara lain. Indeks Nikkei di Jepang dari level 14.600 turun ke level 7.621 atau terkoreksi 47%. Di Hongkong, Indeks Hang Seng turun dari level 27.500 ke level 12.380 atau terkoreksi 40%.
Penyebab utama dari krisis yang terjadi di Amerika ini ternyata adalah gagalnya program Subprime Mortgage, suatu desain produk perbankan untuk kredit kepemilikan rumah di AS.

KPR Subprime  mulai diperkenalkan pada tahun 1930-an, saat terjadi Great Depression, sebuah krisis besar yang melanda AS. Pemerintah AS mendesain KPR Subprime untuk masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki tidak memiliki kemampuan finansial memadai (non bankable). Menyadari jenis KPR ini beresiko yang lebih tinggi dibanding KPR komersial yang lainnya, maka pemerintah AS melalui Federal Housing Administration (FHA) yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Perumahan (National Housing Act) memberikan asuransi bagi lender (perbankan).
KPR semakin booming pada periode tahun 2001-2007.  Tahun 2006 nilainya mencapai US$605 miliar, atau meningkat lima kali lipat dari tahun 2001.  Tahun 2001, Amerika Serikat  pertumbuhan ekonominya negatif. Untuk mengatasinya Bank Sentral AS melakukan kebijakan penurunan tingkat suku bunga dengan cukup tajam, yaitu menjadi 1%. Dengan penurunan suku bunga masyarakat AS pun berbondong-bondong mengajukan kredit bank, termasuk KPR.
Sumber krisis terjadi ketika permintaan KPR (karena waktu yang dibutuhkan untuk membangun properti cukup lama), tidak bisa memenuhi permintaan yang besar (akibat rendahnya suku bunga KPR). Ketidakseimbangan permintaan dan penawaran mengakibatkan melambungnya harga properti. Hal ini ternyata dijadikan peluang bagi para pengusaha untuk melakukan refinancing di sektor properti. Modus refinancing  ini adalah dengan menjadikan properti yang bersumber dari KPR ini sebagai jaminan bagi kredit lainnya. Kredit tersebut kemudian diinvestasikan ke sektor properti lagi, dimana sektor ini memang merupakan sektor yang paling besar potensi keuntungannya. Jadi terlihat sangat jelas, kenapa demand sektor properti sangat tinggi di AS saat itu, selain memenuhi permintaan konsumsi, sektor ini juga harus memenuhi permintaan investasi.
Demand yang besar akan KPR dari masyarakat merupakan peluang bagi sektor perbankan untuk mengambil keuntungan. Institusi finansial pun berlomba-lomba mengucurkan kredit KPR kepada masyarakat. Daya tarik terbesar KPR bagi institusi finansial adalah jangka waktu pinjaman yang panjang, memungkinkan mereka menerima bunga pinjaman dalam waktu yang panjang pula. Sayangnya, kebijakan Subprime Mortgage mengaburkan pertimbangan perbankan akan resiko customer. Walaupun perbankan tahu bahwa customer bisa berasal dari kalangan yang unbankable, namun mereka meyakini jaminan rumah bisa mengatasi resiko yang bisa terjadi. Mereka berkeyakinan bahwa nilai rumah akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Dengan demikian dunia finansial juga memiliki sumbangan terhadap terjadinya krisis Subprime Mortgage.
Pada masa booming KPR ini, bank juga mengeluarkan produk KPR baru yang dinamakan ARM (Adjustable Rate Mortgage). Bedanya  ARM dengan Subprime, jika Subprime merupakan KPR dengan bunga rendah, sementara ARM menerapkan bunga  rendah hanya pada 2-3 tahun pertama saja, tahun berikutnya bunga bersifat floating rate. Produk ARM semakin memperbesar demand sektor properti di AS.
Demand yang besar akan KPR membuat bank membutuhkan modal yang semakin besar. Maka perbankan mengembangkan produk yang namanya CDO (Collateralized Debt Obligation), atau obligasi. Bunga yang dipakai untuk membayar bunga obligasi CDO adalah bunga yang mereka dapat dari kredit KPR yang telah mereka kucurkan. Begitulah hinga masyarakat dan institusi finansial menjadi bagian dari siklus keuntungan KPR ini.
Perputaran keuntungan yang aktif tersebut membawa AS mencapai pertumbuhan yang tinggi. Sayangnya, inflasi yang ditimbulkan dari pertumbuhan tinggi pula. Oleh karena itu sekitar tahun 2004, untuk mengendalikan tingkat inflasi pemerintah (dalam hal ini The Fed) pelan-pelan mulai menaikkan tingkat suku bunga.  Suku bunga bank yang meningkat  mengakibatkan bunga KPR juga meningkat. Masyarakat yang memiliki utang KPR bank adalah kelompok pertama yang merasakan imbasnya, apalagi mereka yang melakukan refinacing properti. Satu per satu bagian dari siklus keuntungan KPR mulai berguguran, dimulai customer unbankable, kemudian pengembang properti, kemudian investor di bidang properti, hingga akhirnya institusi keuangan itu sendiri.  
Siklus KPR yang tadinya menguntungkan kini hanya menyisakan kerugian. KPR mulai macet, CDO ditarik, institusi finansial kekurangan dana, dan properti pun jatuh nilainya karena over-supply. Jika awalnya kredit macet hanya terjadi pada unbankable customer, 3 tahun berikutnya customer ARM mulai bergabung. Customer ARM yang telah menikmati bunga rendah di 3 tahun pertamanya, harus langsung berhadapan dengan shock suku bunga bank yang tinggi, yaitu tahun 2005-2006.  Dengan demikian siklus kebalikan terjadi, semakin lama semakin cepat, persis seperti bola salju (snowball effect). Meletusnya bubble di sektor properti ini sendiri tidak berakhir di sini, melainkan lalu menyebabkan pecahnya bubble lainnya, yaitu bubble derivatif yang kemudian menimbulkan Credit Crisis (Krisis Kredit).
KPR Subprime memiliki banyak produk derivatif (turunan). Banyaknya produk derivatif inilah yang menjadi multiplyer effect dari tersumbatnya KPR Subprime terhadap perekonomian AS, dimana diperkirakan nilai KPR Subprime AS mencapai US$605 miliar.
Proses penciptaan beragam produk keuangan derivatif yang dihasilkan dari KPR Subprime adalah sebagai berikut.

Semua produk derivatif seperti yang disebutkan diatas, diperdagangkan di pasar uang AS dan dibeli investor dari berbagai negara. Hal inilah yang memperluas jangkauan krisis keuangan di AS menjadi krisi s internasional.
Salah satu contoh kasus, dampak krisis ini terjadi pada Lehman Brothers Inc, yang  merupakan perusahaan sekuritas keempat terbesar di Amerika Serikat. [1]Lehman menderita bangkrut karena tidak mampu membayar utang senilai US$613 miliar kepada kreditor. Kebangkrutan Lehman ini mempengaruhi banyak simpul ekonomi di berbagai negara. Karena Lehman Brother sebelumnya menerima suntikan dana dari para investor dari berbagai belahan dunia termasuk juga bank dunia yang memberikan pinjaman dana besar kepada Lehman dan kini terkena imbas kebangkrutan Lehman, yang akhirnya mulai mengganggu sistem keuangan dunia.[2] Kebangkrutan Lehman membuat Amerika Serikat menyuntikkan dana sebesar US$70 miliar, Bank Sentral Eropa US$99,4 miliar, Bank Inggris US$35,6 miliar, Bank Nasional Swiss US$7,2 miliar dan Bank Jepang US$24 miliar. Suntikan dana tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kebangkrutan yang lebih parah lagi terhadap Lehman dan memberikan dana bagi para investor yang menarik investasinya. Suntikan dana juga bertujuan menjaga transaksi bisnis seperti pembiayaan perdagangan lintas dunia. Kebangkrutan lainnya juga dialami Worldcom Inc dan Enron Corp dengan kasus yang mirirp dengan kebangkrutan yang dialami Lehman Brothers Inc.
Efek krisis global ekonomi yang diderita Amerika Serikat ini memeiliki efek domino yang sangat kuat. Krisis ekonomi yang awalnya hanya diderita Amerika Serikat saja kini mulai merembet ke negara lain terutama negara berkembang yang masih membutuhkan bantuan dana interansional, dengan adanya krisis ini secara langsung bantuan internasional akan dikurangi guna mencegah krisis ekonomi dunia yang berlarut-larut. Macetnya ekspor, hilangya likuiditas beberapa bank, pemutusan tenaga kerja, pudarnya kepercayaan investor dan konsumen, dan anjloknya perolehan laba di berbagai sektor keuangan karena adanya pemangkasan suku bunga, otomotif, penerbangan yang tidak kalah pentingnya ialah jatuhya berbagai indeks saham di berbagai bursa Eropa, Asia dan Amerika Serikat itu sendiri merupakan dampak umum krisis global.
Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat juga merupakan pemicu adanya resesi di bidang investasi, perdagangan, bantuan serta kepercayaan konsumen pada negara lain seperti India, Cina, Brasil dan Rusia. Negara lain yang terkena imbas nya juga ialah Jepang pada sektor ekspor yang anjlok, negara-negara di Eropa seperti Inggris, Belanda, Swiss yang penerimaan laba pada lembaga keuangannya ikut anjlok dan kehilangan likuiditasnya karena adanya ketidakpercayaan konsumen. Pada dasarnya semua negara yang pernah menjadi invetsor bagi Lehman termasuk bank dunia kini terkena imbas kebangrutan Lehman, hal itu berarti mereka juga merasakan krisis yang dialami Lehman di Amerika Serikat.

Pustaka :
Semoga bermanfaat.

Marisa Wajdi!!!

[1] Kompas edisi Rabu, 17 September 2008 (halaman 1)
[2] Kompas edisi Rabu, 17 September 2008 (halaman 1)

Pump & Dump – Bahaya Yang Mengintai Sang Pemburu Indikator

Oleh : Marisa Wajdi

Lelucon Musim Dingin dan Orang Indian.

Seorang kepala suku Indian memandangi kemah-kemah sukunya yang berjajar rapi. Kemah-kemah itu bisa dipenati tangisan lagi, jika musim dingin sedingin musim lalu.  Musim dingin lalu memang lebih dingin daripada yang mereka bayangkan, sehingga kayu bakar persediaan mereka lebih cepat habis. Akhirnya mereka harus bertahan berhari-hari dengan penghangat yang sangat minim.
 
Dengan sembunyi-sembunyi, sang kepala suku menelpon badan meteorologi untuk menanyakan prakiraan cuaca di musim dingin mendatang. Kali ini ia mencoba percaya pada teknologi, karena roh leluhur gagal melindungi mereka. Badan meteorologi mengatakan bahwa musim dingin nanti akan seperti biasanya, tidak ada yang  luar biasa.  Sebenarnya kabar itu melegakan hati sang kepala suku,  namun ia tidak mau mengambil resiko. Lalu ia menganjurkan agar tiap kepala keluarga mengumpulkan ranting sedari sekarang sebagai simpanan di musim dingin.

Sebulan menjelang musim dingin, kepala suku bertanya lagi pada badan meteorologi untuk memastikan. Namun kali ini badan meteorogi menganulir pernyataannya dulu. Ia mengatakan bahwa ada dugaan musim dingin ini akan lebih dingin dari biasanya. Mendengar hal itu kepala suku menyuruh sukunya untuk mencari kayu lebih banyak lagi. Hari-hari di perkampungan India menjadi lebih hiruk pikuk mempersiapkan musim dingin kali ini, yang konon lebih dingin.

Saat kepala suku mengerahkan sukunya, badan meteorologi memberi kabar yang mengagetkan. Katanya, musim dingin ini benar-benar luar biasa dahsyat. Dengan tergopoh-gopoh sang kepala suku  segera menyiapkan jerami-jerami hangat yang lebih tebal untuk dijadikan selimut di musim dingin.

Sementara itu di badan meteorologi, kekacauan juga terjadi. Data yang mereka miliki tidak memberikan indikasi yang signifikan bagi terjadinya musim dingin yang dahsyat. Seorang staf  bertanya pada pimpinannya dengan nada kekaguman, “ indikator apa yang membuat Bapak yakin bahwa musim dingin kali ini akan luar biasa dahsyatnya?”

 “Musim dingin yang akan datang pasti sangat buruk. Mungkin terburuk yang pernah ada. Lihat saja, orang-orang Indian mengumpulkan kayu bakar seperti kesetanan!!!”

**Ternyata badan meteorologi selama ini menggunakan aktifitas mengumpulkan-kayu orang Indian  sebagai indikator  'tingkat-keparahan' musim dingin. Badan meteorogi percaya ramalan orang Indian yang mengandalkan intuisi, pengalaman dan berita-berita dari roh leluhurnya, lebih akurat daripada alat berteknologi canggih yang mereka miliki. Sehingga mereka mengandalkan tingkah laku para Indian sebagai alat ukurnya. Lalu saat orang Indian mulai berkaca dan percaya pada prakiraan Badan Meteorologi, apa yang terjadi? Siapa harus percaya pada siapa?

Inilah esensi dari istilah pump & dump yang biasa digunakan sebagai kosakata bursa saham. Berita di pompa untuk menjadi besar, padahal tidak berisi dan pantas untuk dibuang.

Pump& Dumb”, colek para penghitung Nilai Tambah Bruto di seluruh Indonesia ahhh..

Semoga Bermanfaat

Indeks Tendensi Konsumen di Jawa Barat Tahun 2012

oleh : Ahmad Luqman


Setiap sabtu pagi saya punya rutinitas yang hampir tidak pernah dilewatkan. Nganter istri belanja mingguan. Belanja untuk keperluan rumah tangga sekalian stok  barang untuk kantin yang berada di samping rumah.

Selama menemaninya belanja, saya mendapatkan banyak informasi terutama tentang perkembangan harga-harga kebutuhan sehari-hari.  Saya jadi lebih tahu (lebih tepat lebih merasakan) kondisi riil ekonomi keseharian. Istri saya tidak hanya cerita tentang kondisi saat ini, tetapi juga relatif hapal pola perkembangan harga-harga dalam satu tahun. Karena itu pula dia bisa memperkirakan kondisi harga-harga yang akan datang. Ini berdampak pada pola pengelolaan anggaran dan belanja rumah tangga.

Obrolan saya dengan istri selama ini bermanfaat karena terkait  dengan salah satu output kegiatan survei di kantor saya yaitu Survei tendensi Konsumen (STK). Tujuan survei ini untuk mengetahui persepsi responden  terhadap kondisi ekonomi konsumen pada suatu triwulan. Persepsi responden hasil survei ini diolah dan diformulasikan dalam bentuk suatu angka indeks yaitu Indeks Tendensi Konsumen (ITK).

Persepsi merupakan proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek).   Setiap individu memberikan arti kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali lebih penting daripada situasi itu sendiri (Menurut Gibson, dkk (1989) dalam http://www.duniapsikologi.com/).

ITK merupakan indeks berantai triwulanan dengan nilai antara 0 sampai 200. ITK =100 artinya responden memiliki persepsi bahwa kondisi ekonominya sama sajadibandingkan dengan dengan triwulan sebelumnya. ITK <100 berarti kondisi ekonomi konsumen lebih buruk dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.  Untuk ITK > 100, artinya kondisi ekonomi konsumen lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.  

STK dilaksanakan setiap triwulan. Sampel meliputi rumah tangga di daerah perkotaan di seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Alokasi sampel setiap Kabupaten dan Kota beragam yang jumlah seluruhnya sebesar 2.560 rumah tangga. Pada setiap triwulan, rumah tangga yang disurvei tidak berubah . Rumah tangga yang pindah tidak diganti dengan yang baru.

Informasi yang dikumpulkan dalam STK ini  meliputi persepsi perubahan tingkat pendapatan rumah tangga, pengaruh tingkat kenaikan harga-harga  terhadap konsumsi makanan  dan tingkat konsumsi beberapa komoditas makanan & non makanan.  

Hasil survei tahun 2012 menunjukan bahwa secara umum pada setiap triwulan responden merasa tingkat pendapatan rumah tangga mereka lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya.   Ini ditunjukan dengan dengan nilai indeks yang di atas 100. Indeks triwulan I sampai III menunjukan angka yang semakin besar, sedangkan pada triwulan IV angka Indeks mengecil  meskipun masih tetap di atas 100. Pola Indeks triwulanan ini kemungkinan dipengaruhi oleh adanya gaji ke 13 pada bulan Juni (triwulan II).  Untuk triwulan III kemungkinan karena faktor Ramadhan dan Idul Fitri. Pada triwulan IV ada momen natal dan menjelang tahun baru.

Sementara itu pengaruh kenaikan harga-harga ternyata tidak terlalu pengaruh terhadap  tingkat konsumsi makanan sehari-hari rumah tangga.  Angka indeks pada setiap triwulan pada tahun 2012 ini selalu di atas 100. Secara umum memang inflasi tahun 2011 dan 2012 relatif rendah yaitu masing-masing hanya 3,10 persen dan 3,86 persen  dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 6,52 %.
Perkembangan tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan non makanan selama tahun 2012 menunjukan nilai indeks di atas 100 kecuali pada trwulan 1 yang dibawah 100. Seperti halnya pada kaitan inflasi terhdap konsumsi makanan sehari-hari rumah tangga,  kemungkinan ini karena tingkat inflasi yang relatif rendah.  Untuk Triwulan I Tahun 2012, nilai indeks yang di bawah 100 ini disebabkan oleh konsumsi non makanan yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2011. Indeks makanan nya sendiri pada triwulan I tahun 2012 ini masih di atas 100 yang berarti tingkat konsumsinya masih lebih baik dibandingkan triwulan IV tahun 2011.

ITK Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Uraian
Triw-1
Triw-2
Triw-3
Triw-4
Pendapatan rumah tangga
103.59
110.67
109.99
107.89
Kaitan Inflasi dengan konsumsi makanan sehari-hari
118.34
108.94
116.69
112.92
Tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan (daging, ikan, susu, buah-buahan) dan bukan makanan (pakaian, perumahan, pendidikan, transportasi, kesehatan, rekreasi)
97.21
104.86
105.09
101.48
Indeks Tendensi Konsumen
106.14
108.98
110.72
107.88
Sumber : BPS, 2012

Indeks Makanan dan Non Makanan STK Provinsi Jawa Barat Tahun 2012


Uraian
Triw-1
Triw-2
Triw-3
Triw-4
Indeks Makanan
102.27
110.67
109.99
107.89
Indeks Non Makanan
95.34
95.84
105.24
102.88
Tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan
106.14
108.98
110.72
107.88
Sumber : BPS, 2012

Selanjutnya berdasarkan tiga nilai indeks tadi, secara agregatif dan proporsional dapat dihitung nilai ITK untuk tiap triwulan tahun 2012. Pada setiap triwulan tahun 2012, angka ITK di atas 100. Perbedaanya terdapat pada besaran ITK yang meningkat dari triwulan I dampai triwulan III, kemudian menurun pada triwulan IV. Perbedaan besaran ITK ini hanya menggambarkan perbedaan tingkat optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonominya. Berdasarkan hasil survei ini dapat disimpulkan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada setiap triwulan selama taghun 2012 relatif lebih baik dibandingkan dengan triwulan-triwulan sebelumnya.


Perubahan Struktur Ekonomi di Jawa Barat

Oleh : Monika

Sejujurnya, saya membuat tulisan berikut ini sekitar enam tahun lalu. Jadi tidak heran kalau data yang digunakan sudah sangat lama. Tapi saya pikir, esensi yang terdapat didalamnya tetap relevan. Tulisan ini merupakan ide sederhana mengenai perubahan struktur ekonomi Jawa Barat dengan teknik yang sedikit berbeda, memanfaatkan keberadaan tabel input output Jawa Barat yang pertama dan paling terakhir.

Struktur perekonomian di suatu daerah dapat dilihat dari sektor-sektor ekonomi yang membentuknya. Ada 9 sektor yang sudah sering digunakan dalam melihat bagaiman perilaku ekonomi di suatu daerah berjalan, dari pertanian, pertambangan, industri sampai ke sektor jasa.Jawa Barat memiliki struktur ekonomi yang mengalami perubahan dari tahun ke tahun.


Awalnya perekonomian Jawa Barat ditopang dari sektor pertanian yang memberikan kontribusi terhadap PDRB lebih dari dua puluh persen pada dekade 70-an dan 80-an. Sejalan dengan adanya arus investasi yang masuk ke Jawa Barat, terjadi beberapa perubahan dalam struktur perekonomian Jawa Barat.

Perubahan yang terjadi dalam perekonomian Jawa Barat ini dapat terlihat dengan meningkatnya kontribusi sektor industri terhadap nilai PDRB Propinsi Jawa Barat yang kini berada pada kisaran tiga puluh persen dari total PDRB-nya.

Dengan adanya perubahan dalam komposisi sektor perekonomian terhadap pembentukan PDRB terbuka kemungkinan bahwa perubahan-perubahan ini merupakan indikasi adanya perubahan stuktur perekonomian, namun diperlukan analisis yang lebih dalam untuk mengetahui apakah keadaan ini hanya merupakan sympton (gejala sementara) atau bukan.

Penelitian ini menggunakan analisis tabel input output untuk melihat sektor (sub sektor) mana saja yang mengalami perubahan terbesar baik dalam struktur produksi maupun distribusi outputnya. Model input output digunakan karena dianggap mampu menjelaskan perubahan struktur perekonomian secara lebih detail dan bisa mengukur perubahan-perubahan yang terjadi.

Ada dua tabel input output yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu tabel input output jawa barat tahun 1988 yang merupakan tabel input output pertama yang diterbitkan oleh BPS Jawa Barat dan tabel input output jawa barat tahun 2003 yang merupakan tabel input output terakhir yang bisa digunakan. Untuk menghilangkan efek harga, kedua tabel input output tersebut dilakukan penyesuaian dengan menggunakan IHPB tahun 2000, sehingga diperoleh tabel input output tahun 1988 dan 2003 atas dasar harga tahun 2000. Jumlah sektor yang digunakan pun disamakan menjadi 24 sektor.

Metode yang digunakan adalah metode biproporsional yang bisa melihat perubahan baik dari sisi demand maupun supply. Hasil dari penelitian ini antara lain :

Sektor yang paling besar mengalami perubahan dalam struktur produksi dan distribusi outputnya adalah sektor industri logam dasar dan barang dari logam dan sektor industri barang lainnya dengan kontribusi terhadap perubahan struktur perekonomian secara keseluruhan sebesar 29,18 persen dan 14,89 persen (pola prospective). Sedangkan untuk pola retrospective, kontribusi terbesar terhadap perubahan struktur perekonomian disumbang oleh sektor industri barang lainnya sebesar 19,42 persen dan sektor industri kimia, barang kimia, karet dan plastik sebesar 13,45 persen.

Analisis kemudian dikembangkan lagi dengan melihat variasi kolom dan baris yang menunjukkan perubahan sektor-sektor dalam struktur produksi dan distribusi outputnya. Hasilnya sektor industri logam dasar dan barang dari logam mengalami perubahan sebesar 87,25 persen pada struktur inputnya yaitu dalam hal apa yang dibeli sektor ini sebagai inputnya (variasi kolom) dan perubahan sebesar 61,67 persen pada distribusi outputnya yaitu dalam hal apa yang dijualnya sebagai input bagi sektor lain.

Dua sektor yang mengalami perubahan paling besar yaitu sektor industri logam dasar dan barang dari logam dan sektor industri barang lainnya. Kedua sektor ini memiliki karakteristik sebagai sektor yang banyak menggunakan sumber daya alam berupa kebutuhan energi sebagai inputnya, mengingat sektor industri barang lainnya juga mencakup industri pengolahan minyak dan gas bumi. Sehingga bisa disimpulkan bahwa perubahan struktur yang terjadi dengan membesarnya kontribusi sektor industri atas sektor pertanian disebabkan oleh berkembangnya industri yang mengeksploitasi sumber daya alam. Karakteristik lainnya adalah industri ini merupakan industri yang padat modal dan bila sumber daya alam sudah habis maka akan kekurangan bahan baku, sehingga keberadaannya tidak berkesinambungan.

Berdasarkan analisis keterkaitan (linkage) disimpulkan ada 4 sektor yang memiliki backward linkage dan forward linkage lebih besar dari satu baik pada tahun 1988 maupun 2003 yaitu sektor industri kertas dan barang dari kertas, sektor industri kimia, barang kimia, karet dan plastik, sektor industri logam dasar dan barang dari logam, serta sektor industri barang lainnya. Sehingga bisa dikatakan bahwa keempat sektor tersebut merupakan pemicu dari perekonomian Jawa Barat.

Mengingat karakteristik dari sektor industri yang menjadi pemicu perubahan struktur ekonomi di atas, perlu diwaspadai bahwa perubahan struktur ini hanya merupakan sympton atau gejala saja, belum memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan ekonominya.

Mengenal Sanering, Redenominasi dan Devaluasi Lebih Dekat

Oleh : Marisa Wajdi

Dalam tulisan saya sebelumnya, tentang fobia redenominasi, saya memaparkan perjalanan sejarah redenominasi Indonesia. Kali ini saya mencoba memaparkan secara ringkas definisi dari redenominasi, sanering  dan devaluasi. Istilah-istilah ekonomi tersebut adalah istilah yang berkaitan dengan perubahan mata uang. Namun bentuk ketiganya memiliki perbedaan mendasar. Perbedaan yang ada bisa memiliki implikasi yang berbeda pula. Sebagai masyarakat pengguna mata uang tidak salah jika kita memahami definisi ketiga jenis kebijakan tersebut. Setidaknya kita bisa memasang strategi yang tepat saat salah satu dari kebijakan itu diterapkan oleh pemerintah. Bagaimanapun program pemerintah tidak akan pernah sukses tanpa ada dukungan dari seluruh masyarakat.

Tak kenal, maka tak sayang..
Yuk, kenal lebih dekat dengan mereka...

1.             SANERING


Definisi
:
Sanering (berasal dari bahasa Belanda) yang berarti pemotongan nilai mata  uang sekaligus nilai tukarnya

Penyebab
:
inflasi yang  sangat tinggi (hiperinflasi), kondisi makro ekonomi dalam keadaan tidak sehat

Dampak 
:
turunnya daya beli karena menurunnya nilai riil uang

Ilustrasi
:
Misalnya negara memberlakukan kebijakan sanering Rp. 1.000,- menjadi   Rp. 1. Sebelum sanering uang Rp 1.000 dapat membeli beras 1 kg, setelah diberlakukan sanering  uang Rp 1 ternyata tidak cukup lagi untuk membeli 1 kg beras.

Salah satu peristiwa sanering yang traumatis terjadi pada tahun 1965. Kerugian besar terjadi  di semua lapisan masyarakat. Para pedagang dan produsen tidak bisa membeli/memproduksi barang lagi karena modalnya terpangkas, akibatnya supply barang berkurang. Saat demand barang tetap, sementara daya beli menurun, maka inflasi justru memburuk. Lebih lengkapnya Anda bisa baca kembali “Fobia Redenominasi” (*iklan*).

2.      REDENOMINASI


Definisi
:
menyederhanakan angka nominal pada mata uang dengan cara membuang beberapa digit nol

Penyebab
:
Perbedaan mendasar redenominasi dengan sanering ada pada saat penerapan kebijakan. Sanering biasanya dilakukan untuk tindakan mengurangi jumlah uang yang beredar, yang diharapkan bisa menekan inflasi.  Kondisi ini biasanya terjadi saat kondisi makro ekonomi sedang tidak sehat. Sebaliknya redenominasi merupakan kebijakan moneter yang justru mensyaratkan keadaan kondisi makro ekonomi yang stabil, dimana laju pertumbuhan positif, inflasi terkendali. Redenominasi ini merupakan langkah yang harus diambila karena inflasi (walaupun rendah) yangterjadi secara gradual dalam waktu yang lama akan menurunkan nilai uang secara nyata.

 Jika alasan redenominasi adalah inflasi, rasio konversi dapat lebih besar dari 1. Biasanya merupakan bilangan positif kelipatan sepuluh, seperti 10, 100, 1000, dst. Itulah sebabnya redenominasi disebut sebagai ‘penghilangan nol’

Dampak 
:
dalam teori ekonomi, redenominasi tidak akan berdampak pada perubahan nilai riil uang, sehingga daya beli  tidak akan berubah

Ilustrasi
:
Wacana yang digulirkan Bank Indonesia di tahun 2012 lalu adalah menghilangkan tiga digit nol pada tiap pecahan rupiah. Uang Rp. 100.000,- ditukar menjadi  Rp. 100,-.

Jika  uang Rp. 100.000,- saat ini bisa membeli  10 kg beras, maka setelah redenominasi uang Rp. 100,- tetap bisa dipakai untuk membeli 10 kg beras.

3.      DEVALUASI


Definisi
:
menyesuaikan nilai mata uang dalam negeri dengan menurunkan nilainya terhadap mata uang asing atau acuan

Penyebab
:
inflasi yang sangat tinggi (hiperinflasi)

Dampak 
:
Devaluasi dilakukan biasanya karena nilai uang mendapat intervensi (misalnya pemerintah). Upaya mengembalikan nilai uang kepada nilai sebenarnya mengakibatkan’seolah-olah’ nilai uang berubah.

Ilustrasi
:
Misalnya Rupiah (Rp.) terhadap Dollar Amerika Serikat (US$).
Nilai tukar Rp. Dengan US$ terus mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu. Nilai tukar yang tidak stabil tersebut sangat dipengaruhi oleh berbagai transaksi luar negeri. Bagi pelaku bisnis, terutama dalam kegiatan yang berkaitan dengan transaksi luar negeri (ekspor-impor), kondisi ini sangat beresiko. Salah perhitungan dalam memprediksi nilai tukar bisa menimbulkan kerugian yang besar. Selain itu, kondisi ini membuka peluang bagi para spekulan-spekulan yang mengambil keuntungan dengan menciptakan gimmick ekonomi. Jik aini terjadi, yang dirugikan bukan hanya pengusaha, masyarakat pada umumnya, tapi juga negara. Untuk  membangun suhu ekonomi yang kondusif Pemerintah Orde Baru sering menetapkan kurs tetap (fixed currency). Kurs tetap mengakibatkan Rp. Tidak lagi mencerminkan nilai riil-nya. Agar nilai tukar kembali merepresentasikan nilai riil-nya, pemerintah perlu merevisi kurs tetap secara berkala.


Demikian penjelasan ringkas yang berhasil saya simpulkan dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

Marisa Wajdi !!!

Diberdayakan oleh Blogger.