KARAKTERISTIK KETENAGAKERJAAN DI JAWA BARAT TAHUN 2013

oleh Ahmad Luqman

Rabu, 6 November 2013 lalu Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat merilis data tentang keadaan ketenagakerjaan Jawa Barat hasil Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) bulan Agustus 2013. Terdapat beberapa informasi menarik seputar ketenagakerjaan di Jawa barat hasil survei tersebut.

Pertama, pada Agustus 2013 terjadi peningkatan angkatan kerja sebanyak 134.539 orang dibandingkan Agustus 2012. Angkatan kerja adalah penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan.  Angkatan kerja pada Agustus 2013 sebesar 20.284.633 orang.

Kedua, penduduk yang bekerja bertambah dari 18.321.108 orang tahun 2012 menjadi 18.413.964 pada Agustus 2013 atau meningkat sebanyak 92.876 orang. Berdasarkan hasil survei, sebenyak 25,63 % diserap pada lapangan usaha perdagangan. Lapangan usaha industri menyerap tenaga kerja sebesar 21,27 %. Penduduk yang bekerja di lapangan usaha pertanian sebesar19,93 %.

Pengertian bekerja yang dimaksud dalam Sakernas adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1 jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan tersebut termasuk pola kegiatan pekerja tak dibayar yang membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi.

Ketiga,  penduduk yang menganggur pada Agustus 2013 tercatat sebesar 1.870.649 orang.  Penduduk yang menganggur ini meningkat sebanyak 41.663 orang dari Agustus 2012. Penduduk yang menganggur ini mencakup penduduk yang mencari pekerjaan, yang sedang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, dan yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.

Keempat,  sebagian besar penduduk yang bekerja ternyata berpendidikan Sekolah Dasar (SD) ke bawah yang mencapai 49,30 %.  Ini merupakan gambaran secara umum bagaimana kualiatas penduduk yang bekerja di  Jawa Barat jika dilihat dari tingkat pendidikannya.

Kelima, status pekerjaan utama penduduk yang  bekerja Agustus 2013 didominasi oleh yang berusaha pada kegiatan informal yaitu sebesar 53,33 %. Penduduk yang bekerja pada kegiatan informal mencakup mereka yang berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas dan pekerja keluarga.


Usaha pada kegiatan informal umumnya dicirikan oleh skal usaha yang sangat kecil/mikro, modal sangat kecil, omset sangat rendah, akses ke perbankkan sulit dan pengelola/pekerja berpendidikan rendah.  Karakteristik kegiatan informal tersebut yang menjadi penyebab tingkat produktivitasnya yang rendah.

Fenomena Deindustrialisasi


Oleh : Monika

Pembangunan bidang industri merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang harus dilaksanakan secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga bidang industri dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat. Sejak tahun 1976 Badan Pusat Statistik (BPS) telah melakukan Survei Industri manufaktur skala besar dan sedang tahunan. Data hasil survei tersebut antara lain digunakan sebagai bahan penyusunan Indeks Produksi Industri dan penghitungan pertumbuhan produksi industri. Pertumbuhan produksi industri merupakan indikator dini untuk mengetahui perkembangan sektor industri di Indonesia. 

Industrialisasi adalah suatu proses perubahan struktur ekonomi dari struktur ekonomi pertanian atau agraris ke struktur ekonomi industri. Dan industrialisasi merupakan tahapan perkembangan ekonomi yang penting untuk dapat mempercepat kemajuan ekonomi suatu bangsa. Masalahnya, saat ini banyak terjadi fenomena deindustrialisasi. 

Deindustrialisasi kurang lebih dapat dianggap sebagai kebalikan industrialisasi, yaitu penurunan peranan sektor industri manufaktur baik dalam kontribusi jumlah output maupun kontribusi jumlah pekerja dalam sebuah perekonomian. Blackeby (1979) dalam Jalilian dan Weiss(2000) menyebutkan bahwa pengertian deindustrialisasi adalah penurunan nilai tambah sektor manufaktur atau penurunan kontribusi sektor manufaktur dalam pendapatan nasional. Menurut Singh(1982) deindustrialisasi adalah ketidakmampuan sektor manufaktur menghasilkan nilai ekspor yang mencukupi dalam membiayai impornya untuk mencapai kondisi full-employment  dalam perekonomian. Rowhorn dan Wells (1987) menjelaskan arti deindustialisasi sebagai pennurunan proporsi jumlah pekerja sektor manufaktur terhadap total pekerja. Rowthorn dan Wells (1987) yang diacu dalam IMF (1997) menyebutkan deindustrialisasi ada dua macam yaitu deindustrialisasi positif dan deindustrialisasi negatif. Deindustrialisasi positif merupakan dampak yang terjadi karena perekonomian telah mengalami kedewasaan. Deindustrialisasi negatif mengindikasikan adanya performa yang buruk dari sebuah perekonomian. Deindustrialisasi negatif merupakan efek dari performa buruk sebuah perekonomian karena jika perekonomian memburuk akan menurunkan tingkat konsumsi dan pada akhirnya akan menurunkan tingkat produksi khususnya sektor manufaktur.

Risman(2000)  mengemukakan bahwa inflasi turut berkontribusi dalam terjadinya deindustrialisasi. Inflasi menyebabkan investasi menjadi lebih mahal dan profit yang diharapkan menjadi berkurang . Selain itu, perubahan struktur perekonomian oleh peraturan pemerintah juga bisa menyebabkan terjadinya deindustrialisasi.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan deindustrialisasi, antara lain peranan sektor industri terhadap PDRB, tren pertumbuhan investasi, dan penyerapan  tenaga kerja, serta nilai ekspor hasil industri. Deindustrialisasi bisa mengakibatkan tingkat penyerapan tenaga kerja yang menurun, karena jika sektor industri tidak berkembang maka peluang terciptanya lapangan kerja baru akan mengecil.

Kondisi fenomena deindustrialisasi dapat berakibat pada turunnya sektor industri baik PDRB dan penyerapan tenaga kerja sehingga menyebabkan produksi pada sektor industri menurun dan akan berakibat meningkatnya impor dan pengangguran. Selanjutnya akan berakibat pada meningkatnya ketergantungan pada negara atau daerah pengekspor manufaktur, dan sulit melakukan reindustrialisasi. Menjadi pengimpor dan konsumtif bisa mengakibatkan bergantung pada daerah atau negara lain sehingga potensi  sektor manufaktur tidak berkembang dan proses industrialisasi sulit untuk dicapai.

Untuk meneliti fenomena deindustrialisasi ini dapat menggunakan variabel  Rasio PDRB sektor industri terhadap PDRB total, rasio penduduk yang bekerja di sektor industri terhadap total tenaga kerja,  ln IHK, ln PMTB dan tingkat keterbukaan. Modelnya bisa menggunakan Time Series , yaitu dengan metode kesalahan error (Error Correction Mechanism). Selamat mencoba..

Tracer Study


Oleh : Monika

Tracer study sering juga disebut sebagai  alumni survey atau follow up survey, merupakan suatu studi empiris yang memberikan informasi berharga untuk mengevaluasi hasil pendidikan.Di kalangan akademisi, tracer study merupakan salah satu langkah untuk menjamin mutu lulusan suatu perguruan tinggi. Beberapa minggu lalu, saya dan beberapa orang lainnya menjadi responden pre-test pelaksanaan tracer study di ptk tempat saya bekerja.

Yang menarik dalam survey ini adalah jenis pertanyaannya yang tidak biasa dibandingkan survey-survey sebelumnya yang pernah saya lakukan. Selain caranya yang online via email dengan waktu yang dibatasi hanya 2 hari, pertanyaan-pertanyaan dalam survey ini juga lebih bersifat pertanyaan terbuka. Tracer study berisi informasi tentang keberhasilan profesional (karir, status, pendapatan) dari lulusan yang dibutuhkan serta informasi tentang relevansi pengetahuan dan keterampilan (hubungan antara pengetahuan dan keterampilan dan persyaratan kerja, bidang ketenagakerjaan, posisi profesional). Lulusan mungkin juga diminta untuk menilai kondisi studi dan ketentuan yang mereka alami secara retrospektif (evaluasi dalam arti sempit).

Secara umum, pelaksanaan tracer study melibatkan 3 langkah berikut :

1. Concept and Instrument Development
Definisi tujuan survei (pemilihan tema yang akan diteliti)
• Desain Survey (pemilihan kohort lulusan untuk dimasukkan, strategi untuk melacak lulusan
• Konsep teknis untuk melaksanakan survei
• Perumusan pertanyaan dan item respon
• Format kuesioner
• Pre-test kuesioner
• Pencetakan kuesioner dan bahan pengiriman lainnya

2. Data collection

• Pelatihan tim survei
• Distribusi dan pengumpulan kuesioner
• Jaminan partisipasi yang tinggi (dengan mengingatkan)

3. Data analysis and report writing
• Definisi sistem untuk respon coding untuk membuka pertanyaan
• Coding tanggapan terbuka
• Data yang masuk dan mengedit data (quality control)
• Analisis data
• Penyusunan laporan survei
• Lokakarya dengan siswa, lulusan dan pengusaha

Tracer Study ini bisa merekomendasikan beberapa hal, diantaranya tingkat pengangguran yang tinggi bisa menjadi pertanda karena ketidakcocokan skill dengan kejuruan. Sangat dianjurkan bahwa harus ada audit skill yang dibutuhkan oleh sektor pekerjaan dan tingkat partisipasi harus disesuaikan dengan keterampilan yang dibutuhkan.

Tingkat partisipasi responden tracer study di tempat saya yang dinilai masih kurang, akhirnya membuat masa pelaksanaan survey study ini diperpanjang pelaksanaannya. Mungkin para alumni itu masih takut-takut mengisinya karena pertanyaannya yang tidak biasa. Padahal dengan berpartisipasi dalam survey tersebut, pihak terkait dengan survey tersebut merencakan langkah-langkah perbaikannya. Jadi, saran saya, kalau ada tracer study sebaiknya diisi saja apa adanya. Tidak ada ruginya kok. Malah yang berkepentingan menjadi tahu kondisi lulusan perguruan tingginya.

Indonesia, Memetik Hikmah dari Krisis Yunani


“Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatuh juga”, mungkin pepatah tersebut cocok dikatakan untuk Yunani. Di zaman modern ini mereka masih menganggap ‘dewa-dewi’  masih menaungi mereka, sehingga dengan pongahnya Yunani  mencoba membohongi dunia!

Yunani, sebuah negara elok dengan sejarah panjang yang penuh intrik, bahkan sampai detik ini. 15 November  2004  lalu, Pemerintah Yunani  telah mengakui bahwa sesungguhnya mereka tidak memenuhi kualifikasi untuk bergabung dengan zona euro di tahun 1981. Data revisi anggaran mereka menunjukkan bahwa defisit Yunani tidak pernah berada dibawah 3 persen sejak tahun 1999. Kebohongan itu dilakukan agar keinginan mereka bergabung dengan Uni Eropa diterima dengan tangan terbuka. Perjuangan Yunani mendapatkan keanggotaan Uni Eropa memang tidak sebentar. Sebelumnya mereka sudah berupaya untuk melamar menjadi anggota zona euro, namun baru direstui sebatas associate member di tahun 1962.

Penolakan masyarakat Eropa terhadap Yunani sebenarnya cukup berdasar. Selain kriteria wilayah yang terletak di benua Eropa, Yunani tidak memenuhi kriteria lainnya, yaitu stabilitas ekonomi dan politik. Hal ini diperparah dengan perebutan kekuasaan pemerintahan demokratis oleh junta militer di tahun 1967. Kemudian di tahun 1974 terjadi lagi penggulingan junta militer oleh pemerintahan sosialis.  Hingga akhirnya, lewat  berbagai upaya diplomasi Yunani berhasil bergabung dengan masyarakat uni eropa di tahun 1981.

Perjuangan mati-matian ini bukannya tanpa maksud. Yunani mengira dengan bergabungnya mereka dalam masyarakat Eropa, maka perekonomian mereka pun akan terimbas kemapanan negara anggota lainnya. Terbukti pada periode 2000-2007 Yunani berhasil menjadi negara anggota uni eropa dengan pertumbuhan tertinggi. Diperkirakan rata-rata pertumbuhan Yunani pada periode ini adalah 4,3 persen per tahun.  Dimana selama masa tersebut Yunani dibanjiri modal asing sebagai motor perekonomiannya. 

Namun semua berbalik saat tahun 2008, saat negara-negara disekitarnya bangkit dari resesi. Sektor dominan Yunani, yaitu sektor pariwisata dan perkapalan  malah anjlok hingga 15 persen. Kondisi ini tentunya membuat dunia mengernyitkan kening. Disaat perekonomian cukup kondusif, mengapa Yunani malah terpuruk. Dan gejala sesungguhnya semakin nyata saat Yunani membayar utang pada bank-bank investasi di tahun 2010. Terkuak bukti yang menunjukkan bahwa Yunani ‘mengotak-atik’ data statistik ekonomi makronya dan tujuan semua itu adalah penggelapan pajak. Saat itu terpapar juga data bahwa sesungguhnya Yunani mengalami defisit hingga mencapai 13,6 persen dan menderita kerugian sebesar 20 miliar dollar AS per tahun akibat penggelapan pajak.

Yunani akhirnya mengibarkan bendera putih dan meminta bantuan uni eropa untuk membantu krisis negaranya. Sayang dampak dari krisis Yunani ini juga menghantam cukup signifikan bagi negara-negara uni eropa. Sehingga upaya bantuan bagi Yunani bukanlah hal yang mudah diberikan oleh Uni Eropa. Bahkan negara dengan ekonomi mapan seperti Jerman pun  'tergoyang' oleh  krisis Yunani. Karena itu Kanselir Merkel, memperlakukan Yunani dengan cukup tegas dan memaksa untuk  melakukan tight money policy dan  efficiency.  Parlemen Yunani secara ‘terpaksa’ harus menyetujui RUU penghematan demi mendapat dana talangan dari Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF). 

Memang langkah penghematan bukanlah langkah yang mudah karena Yunani membutuhkan dana internasional sebelum bulan Maret 2012 untuk memenuhi pembayaran utang. Jika tidak akan menderita kekacauan yang dapat mengguncang zona Eropa secara keseluruhan. Dana talangan itu tidak gratis, tetapi harus dibayar dengan pengetatan anggaran pemerintah dengan pemangkasan gaji dan pengurangan jumlah pegawai. Pengetatan ini dapat dipastikan akan membawa dampak sosial-ekonomi,  dan  jelas rakyat lah yang akan menderita.

Pelajaran Bagi Indonesia
Banyak pujian yang dilayangkan bagi perekonomian Indonesia. Di saat ekonomi dunia gonjang-ganjing atas berbagai krisis, seperti krisis ‘subprime mortgage AS’, krisis Yunani, krisis Eropa dan sekarang krisis Siprus, Indonesia mampu melanggang dengan santai diatas pertumbuhan positif. 

Indikator makro Indonesia menunjukan data yang ‘manis’: inflasi tahunan terjaga pada kisaran 3-4 persen, kurs rupiah stabil, bahkan pertumbuhan mencapai angka diatas 6 persen.

Tapi jika mau memetik pelajaran dari Yunani, sebaiknya kita berhati-hati. Bagaimanapun bukan rahasia lagi bahwa tingkat korupsi di Indonesia masih sangat tinggi. Investasi yang masuk dan menggerakkan  perekonomian saat ini bisa menjadi bumerang, sama halnya dengan Yunani. Modal yang seharusnya diputar untuk mendapatkan nilai tambah dan menggenjot GDP malah di bagi-bagi pada pemegang kue ekonomi teratas, untuk kemudian di gelapkan atau malah dibawa kabur keluar negeri.

Kalau mau dicermati, daya tahan ekonomi Indonesia terhadap guncangan ekonomi dunia disebabkan daya konsumerisme Indonesia yang tinggi. Tidak bisa dipungkiri Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara,  karena jumlah penduduknya yang banyak. Lebih dari 100 juta jiwa kelas menengah dari total 238 juta jiwa penduduk Indonesia siap membelanjakan uang untuk berbagai kebutuhan. Karena faktor itu pula, Indonesia  mendapat stempel layak investasi dari dua lembaga peringkat: Fitch Ratings dan Moody's Investor Service. Indikasi ini dapat dilihat dari penawaran Surat Utang Negara (SUN) yang deras, yang pada bulan Januari 2012 total mencapai nilai 50,13 triliun rupiah.

Pengakuan dunia internasional membuat Indonesia memasuki era investasi yang baik. Swasta maupun pemerintah bisa bersama-sama  bergerak dalam memanfaatkan aliran dana masuk. Apalagi didukung dengan kebijakan suku bunga rendah. Sayangnya kondisi ini juga mengundang  masalah jika tidak dijalankan dengan bijak. Bukankah krisis AS pun dikarenakan daya tarik suku bunga rendah?

Salah satu kelemahan dalam memanfaatkan momentum ekonomi  ini adalah kualitas penyerapan anggaran belanja modal yang rendah. Selama lima tahun terakhir, penyerapan anggaran belanja modal tidak pernah mencapai 80 persen. Pada tahun 2011, penyerapan hanya 77,78 persen. Pemerintah diharapkan tidak menggali lubang yang akan membebani negara, seperti halnya Yunani. Pemerintah harus memperkecil defisit anggarannya dengan melakukan kebijakan pengetatan ekonomi. Dengan catatan, pemerintah diharapkan mampu mencari solusi agar pengetatan itu tidak mengorbankan rakyat seperti di Yunani.

Pada dasarnya berutang bukanlah ‘dosa’ dalam kegiatan ekonomi. Bagaimana pun negara memerlukan modal untuk menciptakan nilai tambah. Sehingga seharusnya utang tersebut dimanfaatkan untuk pembentukan modal dan aset, bukan dikonsumsi sebagai barang akhir, apalagi ‘ditilep’ oleh para koruptor. Pemerintah juga harus meningkatkan  proteksi atas barang impor agar produktivitas domestik meningkat dan terserap.

Pemerintah Indonesia HARUS benar-benar memberantas korupsi. Korupsi hanya menguntungkan segelintir orang, namun penderitaannya dirasakan umat manusia se-dunia.

Last but not least:
Jangan sampai Indonesia terjebak seperti Yunani yang  asyik mengotak-atik angka statistik ekonomi makro agar tampak indah. Semua pihak harus mengambil peran dalam hal ini. Pemerintah melakukan kewenangannya dalam meregulasi pelaku ekonomi tanpa menciptakan conflict of interest. Pelaku ekonomi bersedia memberikan laporan keuangannya dengan terbuka dan jujur. Statistisi melakukan pencatatan secara akurat, dan analis melakukan analisis secara objektif dan bertanggung jawab. 

Bila diawal saya mulai dengan pepatah, maka saya akan mengakhirinya dengan pepatah pula;

Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”

Mari kita songsong masa kedigjayaan ekonomi Indonesia 2025!

Marisa Wajdi for 'Analisis Lintas Sektor"

Ihwal Krisis Keuangan Amerika Serikat Tahun 2008


Berita- berita ekonomi di berbagai media banyak sekali yang menyoroti krisis ekonomi si AS. Berita itu diwarnai bagaimana krisis yang menghantam AS sejak tahun 2008,  mengganjal perekonomian dunia sampai saat ini. 

Alangkah sayangnya jika kita, hanya menelan berita itu tanpa mengerti krisis apa yang sebenarnya terjadi di AS. Selain membantu pemahaman kita tentang kondisi sosial-ekonomi dunia, harapan saya mudah-mudahan kita bisa mengambil 'pelajaran dari kisah tentang sang 'Polisi Dunia', Amerika Serikat, ini.

Pendahuluan

Krisis Subprime Mortgage  (KPR Subprime) di Amerika Serikat

Derivatif Subprime Mortgage 

  1. Bank menjual KPR Subprime kepada lembaga keuangan yang disponsori pemerintah (government-sponsored enterprises) di bidang perumahan yaitu Fannie Mae dan Freddie Mac. Fannie Mae dan Freddie Macadalah perusahaan kredit perumahan terbesar di AS.
  2. Fannie Mae dan Freddie Mac, lalu me-sekuritisasi KPR Subprime tersebut dengan menerbitkan instrumen utang derivatif bernama Mortgage Backed Securites (MBS).
  3.  MBS lalu dibeli oleh investment bank seperti Lehman Brothers, Morgan Stanley, UBS, HSBC, dan lain-lain.
  4. Investment bank tersebut men-sekuritisasikan MBS (sekuritisasi atas sekuritisasi) dengan menerbitkan Collateralized Debt Obligation (CDO).
  5. Langkah sekuritasasi ini terus berlanjut sehingga menghasilkan CDO turunan, synthetic CDO atau credit linknote (CLN).
Dampak Krisis secara Luas 

Amerika Serikat merupakan negara yang  menganut ekonomi liberal. Ekonomi AS dibiarkan menuruti mekanisme pasar, tanpa campur tangan pemerintah. 

Amerika Serikat (AS) mulai mengalami krisis keuangan sejak tahun 2007. Namun puncaknya terjadi pada September 2008, dimana beberapa lembaga keuangan raksasa dunia mengalami kebangkrutan. Akibatnya investor menarik dana investasi mereka demi melindungi nilainya. Penarikan dan invesatsi besar-besaran tersebut mengakibatkan merosotnya Indeks Nasdaq dan Down Jones. Indeks Dow Jones merosot tajam dari level 13.056 menjadi 8.175 atau terkoreksi sekitar 37%. Sedangkan Indeks Nasdaq dari level 2.600 turun menjadi level 1.521 atau terkoreksi 40%. Untuk mengatasi masalah tersebut Pemerintah AS menyediakan dana talangan sebesar US$700 miliar. Namun krisis tidak melemah, malah semakin membengkak menjadi US$1 triliun.

Merosotnya Indeks Saham Amerika Serikat langsung berdampak pada bursa saham di negara-negara lain. Indeks Nikkei di Jepang dari level 14.600 turun ke level 7.621 atau terkoreksi 47%. Di Hongkong, Indeks Hang Seng turun dari level 27.500 ke level 12.380 atau terkoreksi 40%.
Penyebab utama dari krisis yang terjadi di Amerika ini ternyata adalah gagalnya program Subprime Mortgage, suatu desain produk perbankan untuk kredit kepemilikan rumah di AS.

KPR Subprime  mulai diperkenalkan pada tahun 1930-an, saat terjadi Great Depression, sebuah krisis besar yang melanda AS. Pemerintah AS mendesain KPR Subprime untuk masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki tidak memiliki kemampuan finansial memadai (non bankable). Menyadari jenis KPR ini beresiko yang lebih tinggi dibanding KPR komersial yang lainnya, maka pemerintah AS melalui Federal Housing Administration (FHA) yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Perumahan (National Housing Act) memberikan asuransi bagi lender (perbankan).
KPR semakin booming pada periode tahun 2001-2007.  Tahun 2006 nilainya mencapai US$605 miliar, atau meningkat lima kali lipat dari tahun 2001.  Tahun 2001, Amerika Serikat  pertumbuhan ekonominya negatif. Untuk mengatasinya Bank Sentral AS melakukan kebijakan penurunan tingkat suku bunga dengan cukup tajam, yaitu menjadi 1%. Dengan penurunan suku bunga masyarakat AS pun berbondong-bondong mengajukan kredit bank, termasuk KPR.
Sumber krisis terjadi ketika permintaan KPR (karena waktu yang dibutuhkan untuk membangun properti cukup lama), tidak bisa memenuhi permintaan yang besar (akibat rendahnya suku bunga KPR). Ketidakseimbangan permintaan dan penawaran mengakibatkan melambungnya harga properti. Hal ini ternyata dijadikan peluang bagi para pengusaha untuk melakukan refinancing di sektor properti. Modus refinancing  ini adalah dengan menjadikan properti yang bersumber dari KPR ini sebagai jaminan bagi kredit lainnya. Kredit tersebut kemudian diinvestasikan ke sektor properti lagi, dimana sektor ini memang merupakan sektor yang paling besar potensi keuntungannya. Jadi terlihat sangat jelas, kenapa demand sektor properti sangat tinggi di AS saat itu, selain memenuhi permintaan konsumsi, sektor ini juga harus memenuhi permintaan investasi.
Demand yang besar akan KPR dari masyarakat merupakan peluang bagi sektor perbankan untuk mengambil keuntungan. Institusi finansial pun berlomba-lomba mengucurkan kredit KPR kepada masyarakat. Daya tarik terbesar KPR bagi institusi finansial adalah jangka waktu pinjaman yang panjang, memungkinkan mereka menerima bunga pinjaman dalam waktu yang panjang pula. Sayangnya, kebijakan Subprime Mortgage mengaburkan pertimbangan perbankan akan resiko customer. Walaupun perbankan tahu bahwa customer bisa berasal dari kalangan yang unbankable, namun mereka meyakini jaminan rumah bisa mengatasi resiko yang bisa terjadi. Mereka berkeyakinan bahwa nilai rumah akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Dengan demikian dunia finansial juga memiliki sumbangan terhadap terjadinya krisis Subprime Mortgage.
Pada masa booming KPR ini, bank juga mengeluarkan produk KPR baru yang dinamakan ARM (Adjustable Rate Mortgage). Bedanya  ARM dengan Subprime, jika Subprime merupakan KPR dengan bunga rendah, sementara ARM menerapkan bunga  rendah hanya pada 2-3 tahun pertama saja, tahun berikutnya bunga bersifat floating rate. Produk ARM semakin memperbesar demand sektor properti di AS.
Demand yang besar akan KPR membuat bank membutuhkan modal yang semakin besar. Maka perbankan mengembangkan produk yang namanya CDO (Collateralized Debt Obligation), atau obligasi. Bunga yang dipakai untuk membayar bunga obligasi CDO adalah bunga yang mereka dapat dari kredit KPR yang telah mereka kucurkan. Begitulah hinga masyarakat dan institusi finansial menjadi bagian dari siklus keuntungan KPR ini.
Perputaran keuntungan yang aktif tersebut membawa AS mencapai pertumbuhan yang tinggi. Sayangnya, inflasi yang ditimbulkan dari pertumbuhan tinggi pula. Oleh karena itu sekitar tahun 2004, untuk mengendalikan tingkat inflasi pemerintah (dalam hal ini The Fed) pelan-pelan mulai menaikkan tingkat suku bunga.  Suku bunga bank yang meningkat  mengakibatkan bunga KPR juga meningkat. Masyarakat yang memiliki utang KPR bank adalah kelompok pertama yang merasakan imbasnya, apalagi mereka yang melakukan refinacing properti. Satu per satu bagian dari siklus keuntungan KPR mulai berguguran, dimulai customer unbankable, kemudian pengembang properti, kemudian investor di bidang properti, hingga akhirnya institusi keuangan itu sendiri.  
Siklus KPR yang tadinya menguntungkan kini hanya menyisakan kerugian. KPR mulai macet, CDO ditarik, institusi finansial kekurangan dana, dan properti pun jatuh nilainya karena over-supply. Jika awalnya kredit macet hanya terjadi pada unbankable customer, 3 tahun berikutnya customer ARM mulai bergabung. Customer ARM yang telah menikmati bunga rendah di 3 tahun pertamanya, harus langsung berhadapan dengan shock suku bunga bank yang tinggi, yaitu tahun 2005-2006.  Dengan demikian siklus kebalikan terjadi, semakin lama semakin cepat, persis seperti bola salju (snowball effect). Meletusnya bubble di sektor properti ini sendiri tidak berakhir di sini, melainkan lalu menyebabkan pecahnya bubble lainnya, yaitu bubble derivatif yang kemudian menimbulkan Credit Crisis (Krisis Kredit).
KPR Subprime memiliki banyak produk derivatif (turunan). Banyaknya produk derivatif inilah yang menjadi multiplyer effect dari tersumbatnya KPR Subprime terhadap perekonomian AS, dimana diperkirakan nilai KPR Subprime AS mencapai US$605 miliar.
Proses penciptaan beragam produk keuangan derivatif yang dihasilkan dari KPR Subprime adalah sebagai berikut.

Semua produk derivatif seperti yang disebutkan diatas, diperdagangkan di pasar uang AS dan dibeli investor dari berbagai negara. Hal inilah yang memperluas jangkauan krisis keuangan di AS menjadi krisi s internasional.
Salah satu contoh kasus, dampak krisis ini terjadi pada Lehman Brothers Inc, yang  merupakan perusahaan sekuritas keempat terbesar di Amerika Serikat. [1]Lehman menderita bangkrut karena tidak mampu membayar utang senilai US$613 miliar kepada kreditor. Kebangkrutan Lehman ini mempengaruhi banyak simpul ekonomi di berbagai negara. Karena Lehman Brother sebelumnya menerima suntikan dana dari para investor dari berbagai belahan dunia termasuk juga bank dunia yang memberikan pinjaman dana besar kepada Lehman dan kini terkena imbas kebangkrutan Lehman, yang akhirnya mulai mengganggu sistem keuangan dunia.[2] Kebangkrutan Lehman membuat Amerika Serikat menyuntikkan dana sebesar US$70 miliar, Bank Sentral Eropa US$99,4 miliar, Bank Inggris US$35,6 miliar, Bank Nasional Swiss US$7,2 miliar dan Bank Jepang US$24 miliar. Suntikan dana tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kebangkrutan yang lebih parah lagi terhadap Lehman dan memberikan dana bagi para investor yang menarik investasinya. Suntikan dana juga bertujuan menjaga transaksi bisnis seperti pembiayaan perdagangan lintas dunia. Kebangkrutan lainnya juga dialami Worldcom Inc dan Enron Corp dengan kasus yang mirirp dengan kebangkrutan yang dialami Lehman Brothers Inc.
Efek krisis global ekonomi yang diderita Amerika Serikat ini memeiliki efek domino yang sangat kuat. Krisis ekonomi yang awalnya hanya diderita Amerika Serikat saja kini mulai merembet ke negara lain terutama negara berkembang yang masih membutuhkan bantuan dana interansional, dengan adanya krisis ini secara langsung bantuan internasional akan dikurangi guna mencegah krisis ekonomi dunia yang berlarut-larut. Macetnya ekspor, hilangya likuiditas beberapa bank, pemutusan tenaga kerja, pudarnya kepercayaan investor dan konsumen, dan anjloknya perolehan laba di berbagai sektor keuangan karena adanya pemangkasan suku bunga, otomotif, penerbangan yang tidak kalah pentingnya ialah jatuhya berbagai indeks saham di berbagai bursa Eropa, Asia dan Amerika Serikat itu sendiri merupakan dampak umum krisis global.
Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat juga merupakan pemicu adanya resesi di bidang investasi, perdagangan, bantuan serta kepercayaan konsumen pada negara lain seperti India, Cina, Brasil dan Rusia. Negara lain yang terkena imbas nya juga ialah Jepang pada sektor ekspor yang anjlok, negara-negara di Eropa seperti Inggris, Belanda, Swiss yang penerimaan laba pada lembaga keuangannya ikut anjlok dan kehilangan likuiditasnya karena adanya ketidakpercayaan konsumen. Pada dasarnya semua negara yang pernah menjadi invetsor bagi Lehman termasuk bank dunia kini terkena imbas kebangrutan Lehman, hal itu berarti mereka juga merasakan krisis yang dialami Lehman di Amerika Serikat.

Pustaka :
Semoga bermanfaat.

Marisa Wajdi!!!

[1] Kompas edisi Rabu, 17 September 2008 (halaman 1)
[2] Kompas edisi Rabu, 17 September 2008 (halaman 1)

Pump & Dump – Bahaya Yang Mengintai Sang Pemburu Indikator

Oleh : Marisa Wajdi

Lelucon Musim Dingin dan Orang Indian.

Seorang kepala suku Indian memandangi kemah-kemah sukunya yang berjajar rapi. Kemah-kemah itu bisa dipenati tangisan lagi, jika musim dingin sedingin musim lalu.  Musim dingin lalu memang lebih dingin daripada yang mereka bayangkan, sehingga kayu bakar persediaan mereka lebih cepat habis. Akhirnya mereka harus bertahan berhari-hari dengan penghangat yang sangat minim.
 
Dengan sembunyi-sembunyi, sang kepala suku menelpon badan meteorologi untuk menanyakan prakiraan cuaca di musim dingin mendatang. Kali ini ia mencoba percaya pada teknologi, karena roh leluhur gagal melindungi mereka. Badan meteorologi mengatakan bahwa musim dingin nanti akan seperti biasanya, tidak ada yang  luar biasa.  Sebenarnya kabar itu melegakan hati sang kepala suku,  namun ia tidak mau mengambil resiko. Lalu ia menganjurkan agar tiap kepala keluarga mengumpulkan ranting sedari sekarang sebagai simpanan di musim dingin.

Sebulan menjelang musim dingin, kepala suku bertanya lagi pada badan meteorologi untuk memastikan. Namun kali ini badan meteorogi menganulir pernyataannya dulu. Ia mengatakan bahwa ada dugaan musim dingin ini akan lebih dingin dari biasanya. Mendengar hal itu kepala suku menyuruh sukunya untuk mencari kayu lebih banyak lagi. Hari-hari di perkampungan India menjadi lebih hiruk pikuk mempersiapkan musim dingin kali ini, yang konon lebih dingin.

Saat kepala suku mengerahkan sukunya, badan meteorologi memberi kabar yang mengagetkan. Katanya, musim dingin ini benar-benar luar biasa dahsyat. Dengan tergopoh-gopoh sang kepala suku  segera menyiapkan jerami-jerami hangat yang lebih tebal untuk dijadikan selimut di musim dingin.

Sementara itu di badan meteorologi, kekacauan juga terjadi. Data yang mereka miliki tidak memberikan indikasi yang signifikan bagi terjadinya musim dingin yang dahsyat. Seorang staf  bertanya pada pimpinannya dengan nada kekaguman, “ indikator apa yang membuat Bapak yakin bahwa musim dingin kali ini akan luar biasa dahsyatnya?”

 “Musim dingin yang akan datang pasti sangat buruk. Mungkin terburuk yang pernah ada. Lihat saja, orang-orang Indian mengumpulkan kayu bakar seperti kesetanan!!!”

**Ternyata badan meteorologi selama ini menggunakan aktifitas mengumpulkan-kayu orang Indian  sebagai indikator  'tingkat-keparahan' musim dingin. Badan meteorogi percaya ramalan orang Indian yang mengandalkan intuisi, pengalaman dan berita-berita dari roh leluhurnya, lebih akurat daripada alat berteknologi canggih yang mereka miliki. Sehingga mereka mengandalkan tingkah laku para Indian sebagai alat ukurnya. Lalu saat orang Indian mulai berkaca dan percaya pada prakiraan Badan Meteorologi, apa yang terjadi? Siapa harus percaya pada siapa?

Inilah esensi dari istilah pump & dump yang biasa digunakan sebagai kosakata bursa saham. Berita di pompa untuk menjadi besar, padahal tidak berisi dan pantas untuk dibuang.

Pump& Dumb”, colek para penghitung Nilai Tambah Bruto di seluruh Indonesia ahhh..

Semoga Bermanfaat

Indeks Tendensi Konsumen di Jawa Barat Tahun 2012

oleh : Ahmad Luqman


Setiap sabtu pagi saya punya rutinitas yang hampir tidak pernah dilewatkan. Nganter istri belanja mingguan. Belanja untuk keperluan rumah tangga sekalian stok  barang untuk kantin yang berada di samping rumah.

Selama menemaninya belanja, saya mendapatkan banyak informasi terutama tentang perkembangan harga-harga kebutuhan sehari-hari.  Saya jadi lebih tahu (lebih tepat lebih merasakan) kondisi riil ekonomi keseharian. Istri saya tidak hanya cerita tentang kondisi saat ini, tetapi juga relatif hapal pola perkembangan harga-harga dalam satu tahun. Karena itu pula dia bisa memperkirakan kondisi harga-harga yang akan datang. Ini berdampak pada pola pengelolaan anggaran dan belanja rumah tangga.

Obrolan saya dengan istri selama ini bermanfaat karena terkait  dengan salah satu output kegiatan survei di kantor saya yaitu Survei tendensi Konsumen (STK). Tujuan survei ini untuk mengetahui persepsi responden  terhadap kondisi ekonomi konsumen pada suatu triwulan. Persepsi responden hasil survei ini diolah dan diformulasikan dalam bentuk suatu angka indeks yaitu Indeks Tendensi Konsumen (ITK).

Persepsi merupakan proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek).   Setiap individu memberikan arti kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama. Cara individu melihat situasi seringkali lebih penting daripada situasi itu sendiri (Menurut Gibson, dkk (1989) dalam http://www.duniapsikologi.com/).

ITK merupakan indeks berantai triwulanan dengan nilai antara 0 sampai 200. ITK =100 artinya responden memiliki persepsi bahwa kondisi ekonominya sama sajadibandingkan dengan dengan triwulan sebelumnya. ITK <100 berarti kondisi ekonomi konsumen lebih buruk dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.  Untuk ITK > 100, artinya kondisi ekonomi konsumen lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.  

STK dilaksanakan setiap triwulan. Sampel meliputi rumah tangga di daerah perkotaan di seluruh Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Alokasi sampel setiap Kabupaten dan Kota beragam yang jumlah seluruhnya sebesar 2.560 rumah tangga. Pada setiap triwulan, rumah tangga yang disurvei tidak berubah . Rumah tangga yang pindah tidak diganti dengan yang baru.

Informasi yang dikumpulkan dalam STK ini  meliputi persepsi perubahan tingkat pendapatan rumah tangga, pengaruh tingkat kenaikan harga-harga  terhadap konsumsi makanan  dan tingkat konsumsi beberapa komoditas makanan & non makanan.  

Hasil survei tahun 2012 menunjukan bahwa secara umum pada setiap triwulan responden merasa tingkat pendapatan rumah tangga mereka lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya.   Ini ditunjukan dengan dengan nilai indeks yang di atas 100. Indeks triwulan I sampai III menunjukan angka yang semakin besar, sedangkan pada triwulan IV angka Indeks mengecil  meskipun masih tetap di atas 100. Pola Indeks triwulanan ini kemungkinan dipengaruhi oleh adanya gaji ke 13 pada bulan Juni (triwulan II).  Untuk triwulan III kemungkinan karena faktor Ramadhan dan Idul Fitri. Pada triwulan IV ada momen natal dan menjelang tahun baru.

Sementara itu pengaruh kenaikan harga-harga ternyata tidak terlalu pengaruh terhadap  tingkat konsumsi makanan sehari-hari rumah tangga.  Angka indeks pada setiap triwulan pada tahun 2012 ini selalu di atas 100. Secara umum memang inflasi tahun 2011 dan 2012 relatif rendah yaitu masing-masing hanya 3,10 persen dan 3,86 persen  dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai 6,52 %.
Perkembangan tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan non makanan selama tahun 2012 menunjukan nilai indeks di atas 100 kecuali pada trwulan 1 yang dibawah 100. Seperti halnya pada kaitan inflasi terhdap konsumsi makanan sehari-hari rumah tangga,  kemungkinan ini karena tingkat inflasi yang relatif rendah.  Untuk Triwulan I Tahun 2012, nilai indeks yang di bawah 100 ini disebabkan oleh konsumsi non makanan yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV tahun 2011. Indeks makanan nya sendiri pada triwulan I tahun 2012 ini masih di atas 100 yang berarti tingkat konsumsinya masih lebih baik dibandingkan triwulan IV tahun 2011.

ITK Provinsi Jawa Barat Tahun 2012

Uraian
Triw-1
Triw-2
Triw-3
Triw-4
Pendapatan rumah tangga
103.59
110.67
109.99
107.89
Kaitan Inflasi dengan konsumsi makanan sehari-hari
118.34
108.94
116.69
112.92
Tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan (daging, ikan, susu, buah-buahan) dan bukan makanan (pakaian, perumahan, pendidikan, transportasi, kesehatan, rekreasi)
97.21
104.86
105.09
101.48
Indeks Tendensi Konsumen
106.14
108.98
110.72
107.88
Sumber : BPS, 2012

Indeks Makanan dan Non Makanan STK Provinsi Jawa Barat Tahun 2012


Uraian
Triw-1
Triw-2
Triw-3
Triw-4
Indeks Makanan
102.27
110.67
109.99
107.89
Indeks Non Makanan
95.34
95.84
105.24
102.88
Tingkat konsumsi beberapa komoditi makanan dan bukan makanan
106.14
108.98
110.72
107.88
Sumber : BPS, 2012

Selanjutnya berdasarkan tiga nilai indeks tadi, secara agregatif dan proporsional dapat dihitung nilai ITK untuk tiap triwulan tahun 2012. Pada setiap triwulan tahun 2012, angka ITK di atas 100. Perbedaanya terdapat pada besaran ITK yang meningkat dari triwulan I dampai triwulan III, kemudian menurun pada triwulan IV. Perbedaan besaran ITK ini hanya menggambarkan perbedaan tingkat optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonominya. Berdasarkan hasil survei ini dapat disimpulkan bahwa kondisi ekonomi konsumen pada setiap triwulan selama taghun 2012 relatif lebih baik dibandingkan dengan triwulan-triwulan sebelumnya.


Diberdayakan oleh Blogger.